Menggunakan Tasbih Mengikuti Salafus Sholih

- - Tidak ada komentar
KH. Noor Haliem Lc membacakan ijazah musalsal penggunakan tashbih.


Tasbih sangat familiar dan sudah menjadi bagian dari tradisi ritual ibadah dzikir kaum muslimin. Fungsinya untuk menghitung jumlah dzikir yang sedang diucapkan.

Penggunaan tasbih untuk menghitung dzikir ternyata telah dicontohkan oleh ulama salafus sholih sejak jaman tabi'in yaitu Al Imam Hasan Al Bashri. Hal itu disampaikan oleh KH. Noor Haliem Lc ketika memberikan ijazah musalsal penggunaan tasbih kepada anggota Jamiyyah Rukyah Aswaja cabang Demak saat rutinan Ahad Paing di rumah Sekretaris LDNU Demak H. Muhammad Hur Ihsan Jl Pemuda Demak.

Beliau menceritakan bahwa gurunya yang bernama Abu Alwi  Sayyid Hamid bin Alwi berkata bahwa beliau mendapatkan kabar dari gurunya, dan kabar tersebut sambung menyambung hingga Al Imam Hasan Al Bashri, diceritakan oleh murid Hasan Al Bashri bahwa dia melihat Al Imam Hasan Al Bashri membawa tashbih di tangannya.

Sanad penggunaan tasbih yang musalsal (tersambung) hingga Al Imam Hasan Al Bashri generasi tabiin ini bisa dikonfirmasi langsung kepada beliau KH Noor Haliem Lc, Syuriah PC NU Demak.

Terkait penggunaan tashbih ini, para ulama menggunakan dalil bahwa pada zaman nabi para sahabat menggunakan biji kurma atau kerikil untuk menghitung dzikir dan nabi tidak melarangnya.

Salah satunya diceritakan Abu Hurairah RA mempergunakan media lain untuk berzikir. Seperti diriwayatkan Abu Dawud, Abu Hurairah memiliki sebuah kantong berisi batu kerikil yang ia gunakan untuk berzikir. Abu Syaibah yang mengutip hadis Ikrimah juga mengatakan bahwa Abu Hurairah mempunyai seutas benang dengan bundelan seribu buah. Ia baru tidur setelah berzikir 12.000 kali.


Tidak ada komentar

Posting Komentar