in

Jangan Lupa Bahagia, Bagaimana Caranya?

- - Tidak ada komentar
Lampu gantung di serambi utama Masjid Agung Demak
Sering sekali kita mendengar atau membaca pesan, "Jangan Lupa Bahagia". Atau jangan-jangan kita sendiri pernah mengatakan atau menulisnya di status media sosial untuk menghibur diri. Nyatanya mungkin saat itu kita tidak bahagia. Dan kita tidak tahu bagaimana caranya bahagia. Coretan berikut mungkin bisa membantu kita bagaimana cara mendapatkan hidup bahagia.

Jika diibaratkan nikmat adalah cahaya dan penderitaan adalah gelap, maka bagi seseorang yang hidupnya penuh kegelapan, cahaya sekecil apapun sangat berarti baginya dan membuatnya bahagia.

Sebaliknya, seseorang yang berada dalam kondisi terang, cahaya yang hadir berasa tidak berarti apapun baginya. Dia baru menyadari setelah cahaya itu hilang, sama seperti orang yang seketika marah dan mengumpat di malam hari saat listrik tiba-tiba padam.

Dan letak bahagia itu ketika seseorang memahami hakikat gelap dan terang. Itulah kenapa Allah suruh manusia memikirkan pergantian siang dan malam, perubahan dari gelap ke terang dan terang ke gelap, silih berganti.

Bagi mereka yang hidup dalam kondisi terang tak harus kehilangan cahaya untuk memahami betapa berartinya cahaya, cukup bagikan cahaya itu pada orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Di situ berjuta kebahagiaan akan dirasakan.

Tentang bahagia ini, ada kisah nyata inspiratif yang diceritakan oleh pelakunya sendiri, Andi F Noya. Dia seorang jurnalis yang berawal dari nol menjadi sukses di industri media. Berikut kisahnya:

Dulu , waktu saya awal bekerja , saya pas-pasan. Setiap hari di dompet cuma ada uang terbatas saja-. Kalau beli soto di seberang rumah, supaya hemat beli minta kuahnya yg banyak.

Waktu perayaan Imlek boss kasih saya angpao Rp 500.000,- karena suka cara kerja saya di kantor. Di kantor saya termasuk staff favorit karena lucu dan mau bekerja tidak pilih pilih dan mau folentir ke bagian bagian lainnya .

Ketika terima angpao Rp 500.000,- hati saya berdegub kencang saking bahagia. Uang itu besar banget bagi saya. Langsung terpikir bisa berhari-hari makan enak. Hati saya berbunga-bunga. Di situ saya menyadari betapa nikmatnya jika kita diberi. Sejak saat itu saya bertekad jika saya sukses, saya mau banyak memberi karena begitu nikmatnya diberi.

Lalu ketika ada yang kasih saya sekotak roti Bread Talk. Waktu itu saya belum pernah beli roti mahal karena tidak punya duit.

Waktu saya gigit roti itu, lidah saya rasanya langsung loncat. Enakkk bangeeettt rotinya. Empuuukk guriihh nikmaatt. Saya tanya rekan lainnya, ini roti harganya berapa kok bisa enak banget. Dia jawab bisa Rp 10.000,- satunya. Wahh roti mahal ini.

Saya dikasih 5 roti. 1 saya makan, 1 mau saya kasih sohip. Sisanya saya mau kasih anak jalanan di pinggir jalanan. Pas saya turun motor, saya panggil beberapa anak jalanan terus saya kasih rotinya. Dari belakang saya liatin mereka. Pas mereka gigit rotinya, satu anak langsung teriak "Enakk bangett". Dalam hati saya langsung bilang "Shock kan seperti saya saking enaknya." 😁

Di situ saya menyadari jika memberi kepada sesama, berikanlah barang yang baik dan bagus. Karena akan menciptakan momen tak terlupakan bagi mereka. Seperti saya dan anak-anak jalanan itu yang shock pertama kali makan roti enak dan mahal bagi ukuran kantong kami.

----------
Mari mulai berbagi, setidaknya dengan membagikan tulisan ini. Semoga kita mendapatkan kebahagiaan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar