in

Karomah Gus Dur Yang Membuat Kita Malu

- - Tidak ada komentar
Tanggal 30 Agustus 2018 lalu saya bersama pengurus GP Ansor Kecamatan karanganyar dan keluarga diberi kesempatan berziarah ke muasis Nahdlotul Ulama di Jombang, salah satunya adalah komplek makam keluarga Pondok Pesantren Tebu Ireng. Di situ ada makam muasis NU Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari, putra beliau KH. Wahid Hasyim serta KH. Abdurahman Wahid atau yang populer disebut Gus Dur.

Pengurus GP Ansor Kecaman Karanganyar Kabupaten Demak berziarah ke Makam Muasis NU


Ada banyak buku yang menceritakan kisah hidup beliau-beliau, mulai dari biografi, kumpulan kisah, hingga fikrah dan karya-karya beliau. Pada kesempatan ini saya menceritakan "karomah" yang saya lihat sendiri dengan mata kepala saya dan yang dilihat siapapun yang berziarah ke Tebu Ireng. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa itu adalah karomah yang diperlihatkan oleh Allah.

Saya menyebut ini karomah, sebagaimana yang sering disebut oleh Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan saat memberi mauidhoh dalam acara-acara haul Waliyullah, bahwa salah satu tanda seseorang itu waliyullah adalah Allah perlihatkan karomahnya yaitu Beliau-beliau sudah meninggal tapi masih bisa menghidupi (menafkahi) orang yang masih hidup.

Habib Luthfi juga menyampaikan dengan nada penekanan "Harusnya kita malu sama beliau-beliau", Orangnya iya sudah meninggal, jasadnya ada dalam tanah, tapi beliau masih bisa menafkahi orang yang masih hidup. Dengan cara apa? Dengan cara menghidupkan roda perekonomian dan menyemarakkan sedekah.

Sejak meninggalnya Gus Dur pada tahun 2009 dan dimakamkan di komplek pemakaman tebu ireng, peziarah dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ketahun jumlahnya makin membludak. Peziarah tidak hanya dari daerah setempat, namun juga dari luar daerah bahkan luar pulau dan luar negeri. Makam Gus Dur juga menjadi destinasi tambahan bagi para rombongan ziarah walisongo, ziarah wali songo tidak afdhol jika tidak mampir ziarah ke Tebu Ireng.

Seiring meningkatnya jumlah peziarah, warga sekitar di Desa Cukir lokasi pondok Tebuireng terdorong untuk membuka usaha ekonomi yang dibutuhkan oleh peziarah, mulai dari MCK, warung makan, oleh-oleh souvener, dll. Ada ratusan lapak dan toko sepanjang koridor dari parkir kendaraan hingga gerbang makam. Saat saya ziarah kemarin ada ratusan kios yang sedang dibangun di area samping parkir.

Dari aktivitas ziarah ini roda ekonomi berputar, banyak pihak yang dihidupi dan mendapat manfaat. Diantaranya adalah pengusaha dan pekerja kendaraan travel, para pemilik kios, juru foto, para pengrajin produsen souvenir, produsen makanan dan minuman baik rumahan maupun pabrikan seperti minuman dalam kemasan & makanan instant.

Kotak Amak Sedekah


Selain dari aktivitas bisnis, keberadaan makam Gus Dur juga menjadi wasilah hidupnya amal sedekah. Banyak pihak yang mendapat manfaat dari kotak amal sedekah yang ada di makam Gus Dur ini. Jumlah nominalnya pun fantastis dari tahun ke tahun selalu bertambah bahkan sekarang kotak amal di makam Gus Dur bisa mencapai Rp 250 Juta per bulan.


Keberadaan kota amal di komplek makam tebu ireng ini mulai ada pada tahun 2010 tepatnya setelah meninggalnya Gus Dur pada tanggal 31 Desember 2009. Penempatan kotak amal di lorong menuju makam Gus Dur, kata Muhammad Rusdi manager Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng, bukan tanpa alasan. Menurut dia, sebelum ada kotak amal, peziarah menyalurkan sedekahnya dengan cara melempar uang ke area makam. Ada pula yang menitipkan melalui penjaga makam.

"Lama kelamaan pengasuh menyarankan membuat kotak amal supaya orang mudah bersedekah," terangnya.

Sedekah dari para peziarah 100% dikembalikan kepada ummat, tidak sepeserpun dipakai oleh pihak yayasan untuk keperluan pondok pesantren. Salah satu penyaluran hasil sedekah ini adalah untuk pengobatan gratis bagi warga sekitar yang tidak mampu, hal ini sebagaimana diceritakan oleh alumni PP Tebuireng Arif Khunaifi, sekitar 100 penduduk sekitar mendapatkan Kartu Pondok Tebu Ireng Sehat yang bisa digunakan untuk berobat gratis

Untuk mengelola dana sedekah ini didirikalah lembaga khusus yaitu Lembaga Sosial Pondok Pesantren Tebuireng (LSPT) pada tahun 2007. kata manager LSPT Muhammad Rusdi kepada detik.com. Lembaga ini berada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy'ari. Selain mengelola infak peziarah, lembaga ini juga mengelola infak donatur. Sejak tahun 2013 juga menjadi unit pengumpulan zakat.

Dana infak peziarah, lanjut Rusdi, digunakan untuk menyokong beberapa program sosial. Antara lain peduli siswa tak mampu menyentuh 52 anak, peduli yatim menyentuh 224 anak, bantuan abdi pesantren menyentuh 80 orang, 27 orang pensiunan guru swasta, 279 orang masyarakat miskin, 118 anak penerima beasiswa pendidikan di PP Tebuireng, 14 kesehatan anak dan 25 unit taman pendidikan Quran (TPQ).

Selain itu, dana infak juga digunakan untuk membantu pembangunan ratusan masjid dan musala di Jombang, bantuan terhadap lansia yang tak bisa beraktivitas, serta bantuan untuk korban bencana alam.

"Kami ada program rutin tiap bulan, fakir miskin dan lansia tiap tanggal 10 kami ajak salat duha di masjid, istigasah, pengajian. Pulangnya kami beri makanan dan uang saku," ujarnya.

Dari dana infak peziarah juga, kata Rusdi, kini terdapat Griya Sehat dan mobil kesehatan di area makam Gus Dur. "Griya Sehat untuk memberi bantuan medis ke para peziarah yang sakit ringan. Mobil sehat untuk mengantar peziarah yang butuh perawatan ke rumah sakit," terangnya.

Demikian karomah Gus Dur yang bisa kita ambil pelajaran, dan betapa malunya kita masih hidup tapi tidak bisa memberi manfaat seperti beliau.

Tidak ada komentar

Posting Komentar